Siri Cerita Teladan : Kisah Dua Batang Kayu Dan Pemahat

0
565
views
siri cerita teladan

Alkisah seorang tukang pahat yang ingin menghasilkan sebuah karya pahat yang mempunyai kesenian yang tinggi dari sebatang kayu jati. Sambil menghalakan mata pisau tatahnya sang pemahat berkata,” Wahai, batang kayu, izinkanlah aku memahatmu menjadi sebuah benda seni.”

Batang kayu pun menjawab,”Silakan Pemahat.”

Apabila mata pisau tatah mengenai batang kayu , maka menjeritlah batang kayu itu, ”Aduh!, Aduh!…sakit sekali wahai pemahat. Sakit sekali rasanya badanku.”

Sang pemahat berkata kepada batang kayu tersebut, ”Bersabarlah, bertahanlah…sebentar saja aku menyakiti dirimu wahai batang kayu. Sang pemahat pun meneruskan pekerjaannya. Namun batang kayu itu sekali lagi menjerit, ”Aduh!Aduh!Sakit sekali…..Ampuuun! Sudah, sudah. Batalkan saja niatmu pemahat. Aku sudah tidak tahan lagi!”

Meskipun ia memujuknya untuk bertahan, namun batang kayu tersebut tetap tidak merelakan badannya dipahat sehingga akhirnya si pemahat membatalkan niatnya. Batang kayu itupun ditinggalkan tergolek begitu saja.

Sang pemahat akhirnya mengambil batang kayu yang lainnya lalu meletakkan di meja. Kembali ia berkata,”Wahai batang kayu izinkanlah aku memahat dirimu untuk ku jadikan benda seni.

“Silakan,wahai pemahat,” jawab batang kayu kedua.

Sebaik sahaja mata pisau tatah mengenai batang kayu , maka menjeritlah batang kayu itu, ”Aduh!, aduh!…sakit sekali wahai pemahat. Sakit sekali rasanya badanku.”
Sang pemahat memujuk batang kayu tersebut, ”Bersabarlah, bertahanlah…sebentar saja aku menyakiti dirimu wahai batang kayu.

Sang pemahat pun kembali meneruskan pekerjaannya. Namun kali ini batang kayu kedua patuh terdiam sambil menahan sakit. Sang pemahat tersenyum sambil meneruskan pekerjaannya.
Akhirnya selesailah sudah karya pahat tersebut.

Beberapa orang yang melewati tempat sang pemahat tersebut melihat karya pahat itu lalu tertarik dan mendekati karya tersebut.

“Sungguh luar biasa indahnya! Karya pahat citarasa seni yang tinggi.Wah, karya agung…begitulah ungkapan kekaguman orang-orang itu sambil tangan mereka memegang dan mengelus batang kayu kedua yang telah menjadi benda seni.

Tentu saja batang kayu kedua merasa bangga dan tersanjung. Sedangkan batang kayu pertama yang tidak tahan ditatah kini hanya diduduki para pengunjung. Ia dijadikan tempat duduk.

Malam harinya setelah tempat tersebut sunyi, berkatalah batang kayu pertama,” Ini tidak adil,sungguh tidak adil.Mengapa orang-orang mengagumimu,sedang aku hanya dijadikan tempat duduk. Padahal kita sama-sama kayu yang berasal dari tempat yang sama”

Batang kayu kedua menjawab sambil tersenyum,”Saudaraku,mengapa kelmarin kamu menolak ketika akan dipahat? Sekarang kamu tidak dapat menerima kenyataan.”

“Tentu saja aku menolak karena tubuhku sakit ketika terkena mata pisau pemahat,”

“Itulah.Mengapa kamu tidak diam saja dan bertahan dari rasa sakit sepertiku sehingga pemahat tidak mencampakanmu?”

“ Keterlaluan mereka.Mengapa malah menjadikanku sebagai tempat duduk mereka, sungguh sebuah pelecehan”

“ Jangan begitu saudaraku, sekecil apapun sungguh engkau telah berguna bagi mereka.”

“Huh! Hanya sebagai alas duduk kau bilang berguna? Tidak! Aku ingin dikagumi seperti dirimu.”

Demikianlah sampai pagi menjelang percakapan berlangsung antara kayu pertama yang selalu menggerutu dan kayu kedua yang sabar dan bijaksana.
.
Renungan :
Sahabat, dalam kehidupan ini kadang kita tidak cukup kuat untuk menahan sakit, kesulitan dan penderitaan atau menghadapi tentangan. Kita kadang terlalu cepat menyerah, memberontak dan putus asa. Padahal segala rasa sakit, kesulitan dan penderitaan tadi menjadikan diri kita insan yang lebih dewasa, lebih matang, lebih bijak, lebih mulia dan lebih berharga. Sikap cepat menyerah hanya menghasilkan kegagalan dan kekecewaan saja. Jangan cepat menyerah sahabat!

sumber : FB Himpunan Cerita Motivasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here