Siri Kisah Teladan : Kisah Cinta Sejati Seorang Pemuda

2
586
views
petua kecantikan
“Sebuah kisah tentang perjalanan seorang pemuda dalam mencari cinta yang sesungguhnya serta keikhlasan seorang wanita dalam menerima Takdir Hidupnya…

Berlindunglah kepada Allah yang Maha mengetahui segala kebaikan dan keburukan agar engkau mampu mengambil hikmah dari kisah ini..

Dahulu di sebuah desa yang makmur terdapat seorang gadis desa bernama Syahdiya yang cantik jelita. Ramai pemuda di desa tersebut jatuh cinta terhadap kecantikannya. Namun Syahdia berbeza sama sekali dengan gadis desa lainnya. Dia tahu bahawa ramai pemuda yang mencari simpatinya itu hanya memandang pada kecantikannya semata. Bahkan di antara pemuda desa mereka saling bertaruh untuk mendapatkan cinta dari Syahdiya.

Lalu suatu hari datang seorang pemuda dari kota ke desa tersebut. Dia seorang mahasiswa jurusan kedoktoran yang sedang mengadakan penelitian. Setelah beberapa hari menginap di desa itu, kabar tentang kecantikan gadis bernama Syahdia itu pun terngiang di telinganya. Kerana perasaan ingin tahu yang sangat dalam, lalu dia memutuskan untuk menemuinya. Pemuda itu lalu bertanya pada seorang lelaki tua, tuan rumah yang ia duduki.

“Jika kamu ingin menemuinya, malam ini solatlah di masjid desa. Biasanya dia solat maghrib di masjid tersebut kemudian dia tetap berada di masjid mengkaji sirah sahabat bersama beberapa temannya menanti datangnya waktu ‘Isya. Juga biasanya ia mengenakan telekung hitam panjang.” Kata lelaki tua tersebut.

Pada malamnya, pemuda itu hendak solat di masjid desa sekaligus ingin melihat wanita yang kabarnya cantik jelita itu. Seusai solat maghrib, para warga yang bersolat disitu pun pulang maka tinggallah Syahdiya bersama tiga orang temannya meneruskan pengajian sirah sahabbyyah.

Pemuda Kota itu pun turut menunggu namun dia tidak dapat melihat wajah Sahdiya kerana hijab (Kain putih pembatas lelaki dan wanita) menutupi sehingga ia memutuskan untuk menunggu hingga ba’da I’sya ketika Syahdiya pulang. Kerana tidak tahu hendak melakukan apa di dalam masjid, dia pun mengambil sebuah buku di dalam almari masjid untuk dibaca dan ternyata buku yang diambilkannya tersebut adalah Al-Qur’an dan terjemahannya. Dan pada saat itu ia membuka tepat pada surat An-Nur. lalu matanya tertuju pada Ayat yang ke 26.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS AN-Nur : 26)”

Tangannya lalu bergetar setelah membaca mahzab Allah tersebut. Begitu pun hatinya. Dia yang tipis akan pengetahuan agama itu semakin ingin tahu terhadap ayat Allah yang satu itu. Perlahan Ia menutup kitab itu lalu mengangkat kepalanya tiba-tiba kain putih yang menjadi hijab itu tertiup oleh hembusan angin yang begitu sejuk. Tepat di depan pandangannya seorang wanita menunduk membacakan sebuah kitab. Kerana batinnya merasa ditatap, Syahdia lalu mengangkat wajahnya menatap kedepan melihat seorang pemuda yang menatapnya. Dia lalu menunduk malu dan apabila angin pun berhenti maka hijab pun menutupi pandangan itu.

cinta sejati seorang pemuda

Subhanallah.. Baru kali itu dia menatap wanita yang begitu sejuk dalam tatapan. Dia tidak pernah menjumpai wanita semacam itu di kota.

Pada keesokan harinya, pemuda itu lalu meminta untuk dihantarkan ke rumah gadis tersebut oleh lelaki tua pemilik rumah yang dia tumpangi. Lelaki tua pun menyuruh anak perempuannya yang masih gadis juga untuk menghantarkan pemuda Kota itu ke rumah dimana Syahdiya tinggal. Hanya sebuah rumah yang beratapkan rumbia, berdindingkan sulaman bambu dan berlantaikan tanah.

Setibanya mereka di rumah tersebut, disambutlah dengan senyuman manis oleh Syahdiya. Dia mempersilahkan mereka masuk lalu di hidangkan teh hangat. Kemudian dia menyuruh mereka untuk menunggu sebentar setelah mendengar panggilan dari seorang wanita tua terhadapnya. Dia lalu ke belakang menemui wanita tersebut lalu menyahutinya. (Apabila kita dipanggil oleh orangtua sebaiknya kita menemui mereka baru menyahutinya)”

Labayka ya Jaddah??” (Ada apa Nek) Tanyanya dengan lembut.

Rupanya nenek tersebut meminta untuk dimandikan. Dialah satu-satunya keluarga yang dipunya Syahdia. Seorang nenek yang sudah sangat tua. Ia hidup hanya bersama nenek tersebut dari kecil setelah kedua orangtuanya meninggal. Dialah yang memandikan nenek tersebut setiap pagi dan petang. Membuang hajatnya, menemaninya tidur dan sebagainya.

(Ingat..!! suatu ketika orangtua kita akan seperti itu. Dan kita harus ikhlas melayaninya seperti mereka melayani kita semasa kecil dahulu)

Sementara di depan pemuda tersebut menatap-natap isi rumah yang jauh dari kesederhanaan itu. Kemudian datanglah Syahdiya setelah usai menyelesaikan tugasnya. Lidia, gadis yang menghantarkan pemuda kota itu lalu menjelaskan kedatangan mereka. Katanya pemuda tersebut ingin berkenalan dengannya kerana dia baru di desa tersebut. Syahdiya pun menyambut dengan senang hati namun tidak berlebihan.

Pemuda kota yang mempunya senyum manis dengan sebuah lesung pipit di pipi kanannya tersebut lalu mengulurkan tangannya menyampaikan namanya.

Roman.” Singkat pemuda itu.

Syahdiya lalu menelungkup kedua tangannya seraya menunduk.

Ana Ma’rifatus Syahdia.”

Terjadilah percakapan singkat antara mereka. Pemuda bernama Roman itu semakin yakin dengan wanita tersebut. Lewat tutur katanya yang lembut kesopanan serta perangainya dalam bersikap membuat pemuda kota itu jatuh hati padanya.

Besok pemuda itu sudah harus berangkat lagi ke kota tempat ia belajar. Ia berniat setelah lulus dari kuliah nanti dia hendak kembali ke desa tersebut untuk melamar wanita yang telah menawan hatinya itu.

Setelah dua tahun kemudian pemuda kota itu kembali lagi ke desa tersebut dengan segala persiapan diri yang telah matang. Dia pun mulai mempelajari makna dari surah An-Nur ayat 26 serta islam yang sesungguhnya. Serta senantiasa menjalankan sunnah Rasulullah dalam kesehariannya. Dia berniat mengkhitbah Syahdiya wanita yang dipilihnya semata kerana Allah SWT

Namun ketika ia datang sudah tiada lagi Syahdiya di desa tersebut.. Ketika ia bertanyakan pada warga desa, mereka hanya diam kemudian pergi meninggalkannya. Ia kemudian menemui lelaki tua ayah angkatnya ketika menginap dirumahnya tahun lalu..

Lelaki tua itu lalu mengatakan bahwa Syahdiya mengidap penyakit kusta sehingga dia di asingkan di hutan belakang kampung tersebut berhampiran sebuah air terjun.

Pemuda itu lalu menangis terseduh terhempas di pelukan lelaki tua itu. Dia tetap menginginkan untuk dipertemukan dengan Syahdiya. Lalu lelaki tua pun menghantarkannya menuju hutan dimana wanita itu di asingkan. Disana Ia di asingkan di sebuah pondok tua sendirian setelah nenek yang dirawatnya meninggal. Kalau pun ada warga yang menjenguknya, mereka agak menjauh kerana takut penyakit yang dialaminya.

Ketika datang Roman bersama lelaki tua yang menghantarnya, disambutlah Syahdiya dengan senyuman tulus seperti biasanya seolah tiada beban dalam hidupnya. Ia lalu mempersilakan mereka duduk di tempat khusus tetamu.

Tanpa berbasa-basi Roman langsung menyampaikan pada Syahdiya bahawa dia hendak mengkhitbahnya. Ma’rifatus Syahdiya lalu menunduk haru. Dahulu begitu ramai pemuda yang mendekatinya mengharapkan cinta dari dirinya namun setelah penyakit menular itu menyerang dirinya mereka menjauhinya. Dan kini datang seorang pemuda dengan wajah penuh ketulusan menawarkan sebuah ikatan suci padanya. Namun ia tidak mampu menerimanya.

Bagaimana mungkin aku menerima pinangan antum ya akhie. Aku tidak ingin menzolimi akhun. Aku yakin antum telah mendengar apa yang menimpa diriku ini.” Ungkap Syahdiya.

Seperti apapun penyakit yang ukhti derita, ana tidak peduli.” Tegas Roman.

Cinta yang antum agungkan telah membutakan mata antum sehingga tak dapat melihat lebih jauh.. Apa yang antum harapkan dari diriku? Aku bahkan tidak bisa memberikan apa-apa pada diri antum.”

Kesetiaan ya ukhtie” singkat Roman.

Kesetiaan saja tak cukup dalam menjalin sebuah bahtera.” Syahdiya lalu menunduk dengan airmata yang berlinang terharu akan itikad pemuda itu.

Batinmu pun membutuhkan cinta.. sebuah cinta yang nyata. Dan aku tidak mampu memenuhinya. Di luar sana masih ramai wanita yang lebih baik dari diriku. Yang mampu memberimu keturunan dan cinta yang sepenuhnya. Pergilah…. Biarkanlah aku disini dengan derita ini. Ini telah menjadi takdir Allah Untukku.

Walillahi ya ukhtie.. Kamulah wanita yang aku pilih atas nama Allah… Jika kerana cantikmu, banyak wanita yang cantik di dunia ini. Aku siap berpuasa untuk itu ya Ukhtie.”

Syahdiya tetap tidak mahu menerima pinangan pemuda itu sebab dia tahu akan menjadi haram jika pernikahannya terjadi sebab akan ada yang terzalimi dengan pernikahan tersebut.

Namun pemuda itu tetap bertahan pada pendiriannya sebab dia yakin akan lebih baik jika kita bersabar. Dia lalu kembali ke kota melanjutkan pengajiannya. Pemuda itu belajar sambil bekerja di sebuah hospital dan pendapatannya ditabung untuk membiayai Syahdiya berubat nantinya.

Dua tahun kemudian pemuda yang telah menjadi doktor pakar jantung itu datang ke desa itu lagi dengan niat tulusnya hendak melamar wanita yang dipilihnya karena kesuciannya tersebut.

Dia lalu menemui bapa angkatnya untuk dipertemukan dengan Syahdiya namun lelaki tua tersebut membawanya ke pusara yang Nisannya bertuliskan nama Ma’rifatus Syahdia. Dia lalu menangis terhempas tidak berdaya.. Tidak tahu apa yang hendak dilakukan olehnya.

Begitulah insan.. di kala cinta telah menyapa, kita rela melakukan apapun demi mendapatkan cinta itu. Mungkin rencana kita telah baik, namun perlu di ingat bahawa rencana Allah SWT lebih baik lagi. Belum tentu apa yang kita anggap baik dimata kita baik pula dimata Allah.

Dia telah mempersiapkan yang lebih baik untuk kita. Yang sesuai dengan akhlak serta perangai kita. Jikalau kita mencinta janganlah sampai kita merasa memiliki kerana apabila yang kita cintai tiada kita akan merasa kehilangan yang teramat sangat.. Ikhlaskanlah segalanya pada Allah dan yakin akan janjinya. Apapun yang diberikan pada kita itulah yang terbaik untuk kita.

Ana doakan semoga kita semua mendapatkan pasangan yang benar-benar diredai oleh Allah SWT dan ketika kita mencintai, hanya atas Asma-Nya.

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya..” (Al-Qashash : 56)

Seindah apapun kisah yang ana tuliskan lebih indah lagi kisa para shahabat wa Shahabyyah..

Aku berlindung kepada Allah dari godaan Syaitan yang terkutuk..

sumber : FB I Love Allah SWT and Prophet Muhammad SAW

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here